Untuk Bintang Siriusku, Dari Aku teleskop Hubblemu
Semilir angin malam masuk ke kamar ku, jendela kamarku sengaja kubuka untuk melihat indahnya kerlipan bintang di langit. Malam itu langit memang indah ditaburi kerlipan bintang dan cahaya bulan sabit di atas bukit. Namun keindahan itu tidak mampu mengobati sakitnya hatiku, kutatap bintang-bintang itu, mereka bak berpesta. Tak mengerti pada suasana hatiku.
Aku teringat pada saat-saat itu, saat aku pertama kali melihatnya, saat aku pertama kali mengenalnya meskipun dia tidak mengenalku tapi entah mengapa hatiku terasa berdebar saat pertama kali aku melihatnya.
Pagi yang cerah, mentari menyinari dunia, rumput-rumput dibasahi embun, cahaya matahari itu memantul di tetesan embun dan langit tampak begitu biru menampilkan rona yang begitu indah. Aku berangkat kesekolah saat itu adalah hari pertama aku masuk sekolah.
Saat istirahat tiba, pengurus organisasi ekstrakulikuler sekolah mendatangi kelas satu persatu. Mereka menawarkan berbagai ekstrakulikuler kepada kami. Saat itu aku tertarik pada ekstrakulikuler PASSUS (PASUKAN KHUSUS) atau Paskibra, pengurusnya memerintahkan untuk datang saat pulang sekolah ke ruang sekretariat PASSUS bagi yang ingin bergabung.
Aku sangat antusias untuk mengikuti ekstrakulikuler ini, saat kumpul di ruang sekre, para pengurus dan anggota PASSUS lama memperkenalkan diri mereka masing-masing. Lalu dilanjutkan pada anggota baru untuk memperkenalkan diri.
“Nama saya Aelsa, kalian bisa memanggil saya Aelsa”kata seorang gadis yang merupakan anggota baru PASSUS. Lalu aku memperkenalkan diriku pada semuanya “hai semua, perkenalkan nama saya Aldi” kataku pada semua. Setelah itu kami diizinkan pulang dan pelatihan dasar dimulai pada hari selasa.
Hari selasa, pulang sekolah aku langsung mengikuti latihan paskibra. Saat istirahat latihan tiba aku duduk di pinggir lapangan sambil melihat-lihat sekeliling. Kemudian Aelsa melewat bersama temannya di depanku, dia senyum dan mengatakan “Hai !” padaku aku membalasnya. Tapi entah kenapa hatiku terasa berdebar saat ia memberi senyuman itu, seakan hariku mendadak sejuk dihari yang panas.
Aku tidak mengerti pada perasaanku, biasanya tidak seperti ini. Kenapa dengan diriku ini? Entahlah
Aku sampai dirumah pukul 4 sore, badanku terasa lelah sekali. Akupun membersihkan badan dan pergi ke kamarku untuk mengerjakan PR. Tapi entah mengapa aku tidak bisa berkonserntrasi pada soal-soal PR. Aku masih kepikiran Aelsa, dia begitu imut dan cantik saat ia senyum padaku.
Beberapa bulan kemudian, perasaanku pada Aelsa belum hilang juga. Kemudian suatu hari pengurus OSIS mengajak pada kelas 7 untuk menjadi bagian dari pengurus OSIS yang baru. Aku tidak peduli, karena menurutku pengurus OSIS adalah sebuah organisasi terselubung yang menurut pemikiranku, itu adalah penyebab adanya perbulian pada siswa baru, jadi MOPD yang diselenggarakan oleh sekolah dan diurus oleh OSIS adalah perbulian yang terorganisir. Itu pendapatku dulu saat aku muak pada adanya perbulian
Tapi pada akhirnya aku pun mengikuti OSIS juga, itu karena aku tahu kalau Aelsa mengikuti seleksi menjadi pengurus OSIS. Toh banyak sahabat-sahabatku waktu SD yang ikut. Saat seleksi tiba aku datang ke lapangan di depan aula, nampaknya yang lain sudah ada di sana, untung aku tidak terlambat kalau aku terlambat bisa-bisa aku menjadi bulan-bulanan perbulian oleh para senior itu.
Aku duduk untuk mengikuti test seleksi calon OSIS, ternyata aku lulus. Dan teman-temanku di SD tidak, hanya aku aja yang lulus. Aku senang saat aku tahu bahwa Aelsa pun lulus seleksi calon OSIS, kemudian esoknya kami mengikuti OSPEK menjadi OSIS, dan yah sudah kuduga pasti ada perpeloncoan yang dilakukan oleh bedebah-bedebah itu.
Singkat cerita aku menjadi OSIS sambil terus mendekatinya. Tapi saat aku mencoba untuk mendekati Aelsa aku tidak pernah berhasil, selalu saja ada halangan. Beradi di Organisasi OSIS ini membuat aku merasa bosan, ternyata menjadi OSIS itu memuakan, aku capek ditambah kesehatanku yang semakin berkurang dan teman-teman SD yang mulai menjauh dariku, semua berubah.
Kemudian aku mulai berpikir untuk keluar dari OSIS, toh posisiku tidak terlalu penting. Akupun meminta izin kepada Kang Dery bahwa aku ingin mengundurkan diri. Dia tidak kaget, hahaha mungkin karena ia mengerti pada alasanku dan kondisiku. Akupun membuat surat pengunduran diri.
Setelah itu aku mencoba untuk melupakan segala tentang Aelsa, dia tidak seperti teman-temanku yang lain yang mudah bergaul, saat di PASSUS kami tidak pernah sedikutpun mengobrol panjang dan aku tidak akrab dengannya. Akupun berhasil melupakannya dan hatiku kosong.
Langit biru, semburat sinar mentari bulan juni merasuk ke sela-sela ranting. Udara segar berhembus diantara hangatnya sinar mentari. Aku berjalan dengan tas hitam di punggungku menuju jalan raya untuk naik angkutan umum dan pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama aku sekolah setelah libur panjang, sekarang aku sudah kelas 9.
Sampai di sekolah, aku melihat siswa-siswa dikumpulkan di lapangan. Ternyata ada pengumuman pembagian kelas, aku bergabung dengan mereka dan menunggu giliran namaku dipanggil. Ternyata aku ditempatkan di kelas 9i, dalam benakku aku membayangkan, seperti apa suasana kelas di kelas 9 ini ? apakah akan lebih baik ?
Aku berjalan sendiri menuju kelas baruku, sesampainya di kelas aku duduk di bangku depan, dan ternyata aku satu kelas lagi bersama temanku yang dulu yaitu Riki dia dulu teman sekelasku waktu kelas 7. Aku duduk sebangku bersamanya, tiba-tiba Aelsa melewatiku, "apakah dia akan sekelas bersamaku ?" ujarku dalam hati. Dan ternyata benar dia sekelas bersamaku. Hatiku sekarang sudah melupakannya, tidak ada rasa lagi.
Hari demi hari aku jalani di kelas 9i, ternyata hatiku jatuh lagi pada Aelsa. Setiap hari aku mencoba untuk mendekatinya, dan mengobrol dengannya meskipun hanya sesaat tidak pernah mengobrol panjang. Aku selalu mencoba untuk mengungkapkan isi hatiku tapi selalu gugup, dan gagal lagi. Saat ada pembagian kelompok kelas, ternyata aku satu kelompok dengannya.
Hatiku selalu cemburu saat melihat Aelsa dekat dengan Kreis, mereka selalu berduaan menonton film Anime, aku hanya melihatnya di belakang mereka. Mereka selalu bercanda satu sama lain, saling berkejar-kejaran, aku hanya melihat mereka dihadapannku terkadang aku tertawa juga meskipun dalam hatiku aku merasa sakit, aku hanya berpura-pura tertawa karena orang lain tertawa. Aku pernah sangat cemburu saat aku pulang sekolah, aku tidak langsung naik angkutan umum tapi aku berjalan dulu dari sekolahku ke Pasar, saat di jalan aku melihat dia bersama Zein sedang berjalan berdua, aku tepat berada di belakangnya.
Suatu hari, saat suasana kelas yang ramai karena guru-guru tidak masuk, mereka rapat. Cuaca cerah, langit biru awan putih dan sinar mentari bersinar terang di bulan Agustus mewarnai hari itu. Di kelasku sangat berisik ada yang mengobrol, ada yang mengerjakan tugas kelompok, ada yang bermain dengan hp dan lain-lain. Sementara aku dan teman-temanku sebagiannya menonton film di laptop Aelsa, aku duduk di meja di belakang bangku yang di duduki Aelsa.
Kemudian, teman sebangku Aelsa yaitu Flowina bicara padanya "Aelsa, itu kata Ikmal katanya dia ada urusan sama kamu" kata bunga sambil tersenyum. Kemudian Aelsa meninggalkan tempat duduknya dan digantikan oleh Flowina. " Win si Iklam mau ngapain manggil Aelsa?" tanyaku padanya. "Itu Di, katanya si Ikmal mau nembak si Aelsa!" jawaban Flowina membuat aku kaget "Di! Aldi! kamu kok diam?" kata Flowina. "Hah ? ngga kok Win, aku lagi liatin filmnya tuh" padahal aku sedang merasa kaget. "Aldi, kalo menurut kamu Aelsa nerima Ikmal gak yah ?" katanya padaku, aku hanya menggelengkan kepalaku. "Kalo menurut aku sih, ngga soalnya Aelsa kan belum pernah pacaran, dia masih polos hahahaha" kata-kata Flowina melegakanku.
Terdengar suara sorakan teman-temanku di depan kelas. "Aldi, aku mau lihat ah kamu ikut gak ?" Flowina lari menuju keluar kelas untuk melihat Aelsa, aku mengikutinya. "Aelsa, Ikmal suka sama Aelsa semenjak kita sekelas. Ikmal mau mengungkapkan perasaan Ikmal yang sebenarnya, Aelsa mau ngga jadi pacar Ikmal ?" kata Ikmal sambil memegang tangan Aelsa, aku cemburu melihatnya. Aelsa diam, dia tidak berkata, ini membuat jantungku semakin berdetak kencang. Kemudian teman-temanku berteriak "Terima, Terima, Terima, Terima!" aku mengikuti mereka berteriak karena Flowina mulai curiga melihat wajahku.
"Ikmal, iya aku mau menjadi pacar kamu". Jawaban itu menusuk hatiku, hatiku bagai diiris oleh pedang Damaskus, rasanya badanku lemas, suasana menjadi suram, Langit biru menjadi hitam. Aku berlari kedalam kelas dan pura-pura menonton film lagi. Tak terasa mataku di basah tapi air mataku tak jatuh, dan tak sengaja Flowina melihatku "Aldi gimana kelanjutan filmnya ?" tanyanya padaku " Iya ini seru banget, kamu lihat deh" jawabku padanya "aduh kacamataku beruap nih bentar ya aku kebelakang dulu?" kemudian aku pergi dan menenangkan diriku.
Singkat cerita mereka berpacaran dan mereka membuatku terjatuh kedalam jurang kecemburuan, aku hanya bisa tersenyum melihat Aelsa bahagia bersama dia. Tapi entah apa yang terjadi setelah mereka berpacaran sekian lama, mereka putus. Aku tidaka tahu penyebabnya apa mungkin ada masalah antara mereka berdua. Melihat mereka putus aku senang sekali karena aku bisa mendekati Aelsa lagi dan kali ini aku berjanji akan mengungkapkan perasaanku padanya.
Aku sadar kalau selama ini aku payah aku hanya tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku saja karena aku takut. Aku berpikir dan terus berpikir seperti para filsuf Atlantis, akhirnya aku mencoba menulis surat cinta untuknya :
Aelsa Vera Mayanti
Aku tatap bintang dilangit yang kerlipannya bertabur di lensa mataku
Diantara kelipan itu ada yang paling bersinar yaitu Sirius
Kau adalah Sirius yang bersinar lebih terang diantara yang lainnya
Kuharap kau tahu perasaanku, bintang Siriusku.
Penuh Cinta
dari aku teleskop Hubblemu
Aku meragukan surat cintaku ini, jadi aku membuang surat ini ke tong sampah tapi betapa sialnya aku saat aku pulang ke rumah aku dikabari oleh temanku yang masih ada di sekolah bahwa suratku ditemukan oleh si Frenita, bahkan yang lebih parah lagi ia memasang surat itu di mading kelas, keesokan harinya saat aku memasuki kelas aku langsung menjadi bulan-bulanan dan aku mencabut surat itu langsung kusobek-sobek saja, untung saja Aelsa belum datang, dan teman-temanku bisa diajak kompromi.
Aku terus memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaanku padanya, aku putuskan aku akan bicara langsung padanya tentang perasaanku meskipun aku takut dia marah. Hari itu adalah hari terakhir aku sekolah di SMPN 1 karena kami sudah ujian nasional dan besok adalah libur panjang dan menentukan pilihan SMA. Aku bicara pada Aelsa "Aelsa aku tunggu kamu di belakang kelas 9f, aku mau bicara bentar aja sama kamu" aku tidak menanyakan padanya mau atau tidak tapi aku langsung pergi saja dan menunggu di belakang kelas 9f karena di sini adalah tempat yang sepi.
Aku menunggunya beberapa saat, dan ternyata dia datang. Aku tidak percaya mungkinkah ini saatnya? ini adalah pertama kalinya aku dengan berani mengungkapkan perasaanku pada orang yang aku suka selama ini, membayangkan saat aku melihatnya untuk pertamakali saat kelas 7. Aelsa menyapaku "Aldi, kamu mau bilang apa ? kok harus ke sini segala?" pertanyaan Aelsa membuatku berdebar. "Hmmmm ini aku mau..... mau...." aku gugup mengatakan perasaanku padanya.
"Apa Aldi kamu ngomong gak jelas tau!" ketanya. "Aelsa Aldi suka sama Aelsa dari kelas 7 saat kita di Eskul PASSUS, Aku suka sama kamu sebelum kamu pacaran sam ikmal, aku suka sama kamu, Aldi cinta kamu Aelsa". kataku tegas dan lega. Lalu Aelsa diam agak lama dan menjawab "Terus?", aku bingung menjawabnya aku sudah kehilangan kata-kata aku masih gugup berat aku tidak bisa melanjutkannya lalu aku katakan padanya "Hmmm iya itu aku cuman mau ngomong itu, yaudah" lalu aku pergi dan aku tidak tahu apa yang dirasakan Aelsa saat itu.
Setelah bicara dengannya aku merasa lega tapi aku juga sedih karena kau tidak menembaknya karena aku takut, tadinya perasaanku setelah mengungkapkan perasaanku padanya lega tetapi lama kelamaan aku jadi dilanda rasa penyesalan. Artinya ini apa ? aku tidak mengerti, jadi selama ini aku suka padanya harus berujung seperti ini?
Lembayung senja menemani penyesalanku aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena aku dan dia akan berpisah dan kita tidak akan bersama-sama lagi, karena kami akan bersekolah disekolah yang berbeda.